#FFKamis ~ Milky Way

#FFKamis ~ Milky Way

“Aku ikut!”

“Jangan, Sayang, kamu sedang hamil. Tengah malam begini.”

“Pokoknya ikut!”

Suamiku mengangguk pasrah. Segera kusambar alat lukisku dan menunggunya di mobil.

Kami menuju pantai dalam diam. Dia pasti kesal. Karena bila ikut, aku takkan sabar menemaninya menunggu hingga langit jernih untuk memotret milky way yang sangat dipujanya.

Betuntung kami tinggal di Lombok, di mana pada bulan April gugusan milky way tampak jelas.

Sesampai di pantai, dia mulai mengatur kameranya demi mendapat bidikan terbaik. Sementara aku pun mengeluarkan alat lukisku. Mengambil cat merah, mencampurnya dengan hitam, lalu mengayunkan kuasku pada langit. Mewarnainya hingga memekat.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

-o0o-

*milky way: galaksi spiral yang memiliki 200-400 milyar bintang dengan diameter 100.000 tahun cahaya dan ketebalan 1000 tahun cahaya

Sumber: wikipedia

Advertisements
#FFKamis ~ Liburan

#FFKamis ~ Liburan

Hari Sabtu tiba juga! Liburan kali ini tidak boleh gagal. Kujinjing koper kecil kesayanganku menuju ruang duduk.

“Hallo, Susan.” Emma menyapaku ramah. Namun terdengar bagai sindiran menyebalkan. Aku mendengus lalu menjauh darinya. Kuamati tas besar di kakinya. Dia pasti akan bersenang-senang, seperti biasa, lalu kembali dengan kulit cokelat dan wajah segar.

Kebahagiaannya membuatku iri. Perempuan beruntung yang dikelilingi orang-orang terkasih.

“Emma!”

Penjemput Emma datang. Perempuan itu berbinar-binar.

Berjam-jam telah berlalu. Penat mulai menyergap. Sesekali pandangan iba tertangkap mataku.

“Mungkin mereka sibuk,” hibur Meg selintas. Setahun penuh mereka sibuk?

Terseok aku kembali ke kamar. Liburan ini, kembali kuhabiskan di panti jompo.

#FFKamis~Kejutan

#FFKamis~Kejutan

Pukul dua belas malam. Terdengar suara bisik-bisik di luar. Aha, seperti telah kuduga, akan ada pesta kejutan di ulang tahunku. Aku tersenyum-senyum sambil tetap berbaring pura-pura masih lelap.

Yah, kawanku tidak banyak, sebab aku penghuni baru di sini. Tapi aku yakin, mereka akan memberikan kejutan menyenangkan sebab selama ini mereka sangat baik padaku.

Bisik-bisik dan suara tawa tertahan semakin mendekat dan aku semakin gemas menahan tawa juga.

Lalu,

“Surprise!”

Teriakan dan tawa benar-benar mengejutkanku. Riuh nyanyian dan tepuk tangan membahana, memecah kesunyian malam.

Aku sedih sekali. Ternyata kemeriahan itu bukan untukku, melainkan untuk tetangga sebelah. Makam seorang artis cantik terkenal.

Words: 100

[Quiz] Prompt #135 ~ Bingkisan

[Quiz] Prompt #135 ~ Bingkisan

Ranti tidak mengerti, apa sesungguhnya yang dilihat Bayu pada dirinya. Sebagai seorang perempuan, ia merasa sudah terlalu tua untuk Bayu. Usianya menjelang tiga puluh lima tahun, perawan, wajah pas-pasan. Satu-satunya yang bisa ia banggakan hanyalah otaknya yang lumayan encer, yang membuatnya menduduki posisi sebagai sekretaris eksekutif Bapak Aksan Wibowo, direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Orang kepercayaan Boss, bahkan melebihi Nyonya Aksan. Sebab ia memegang pembukuan pribadi, sekaligus PIN tiga ATM milik Pak Aksan.

Bayu ini juga seorang asisten kepercayaan dari Boss perusahaan vendor yang sedang ikut tender di perusahaan Ranti. Sebetulnya ia tidak secara langsung bersentuhan dengan Ranti, melainkan dengan purchasing manager. Tetapi setiap kali datang ke kantor, selalu Ranti yang dicarinya. Entah sekedar menyapa atau menanyakan sesuatu. Dari sekedar urusan pekerjaan sampai akhirnya bertukar nomor telepon kemudian makan siang bersama.

Malam ini, mereka akan berkencan untuk pertama kalinya. Sebuah makan malam mewah di Ritz Carlton. Bukan pertama kali Ranti makan di hotel mewah tersebut, sebab seringkali mendampingi Pak Aksan lunch meeting atau sekedar brunch bersama kolega. Namun kali ini tentu saja istimewa, sebab ia akan makan bersama Bayu. Ia mengenakan gaun silver berpotongan sederhana namun elegan, untuk menyembunyikan lemak di sana sini. Riasan sedikit berwarna dan rambut ditata dengan sasakan rendah.

“Kamu cantik sekali, Nak,” ujar Mama terharu, akhirnya anak gadisnya akan berkencan dengan seorang pria.

“Mama yakin, rambutku nggak berlebihan?” tanya Ranti gugup.

“Nggak, Sayang. Kamu cantik banget. Nah, berangkatlah, jangan sampai dia menunggumu terlalu lama.”

Kenyataannya, dia yang menunggu terlalu lama sebab Bayu datang setengah jam dari waktu kencan mereka. Namun wajah tampan pria muda itu dengan senyum kekanakannya membuat Ranti meleleh

“Maaf, aku terlambat.” Bayu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku jasnya.

Ranti terkejut. “Apa ini, Bayu? Kau … kenapa repot-repot?”

“Sst, bukalah.” Gemetar Ranti membuka bingkisan itu. Sebuah kotak hitam persegi panjang dari beludru membuat Ranti berdebar. Jantungnya semakin kencang berdetak ketika membukanya. Sebentuk gelang dari emas putih dengan taburan berlian bersinar-sinar di hadapannya. Bayu meraih gelang itu lalu memakaikannya di pergelangan tangan Ranti.

“Untuk apa ini, Bay?”

I love you,” bisik Bayu tanpa menjawab pertanyaan Ranti. Perempuan itu terbelalak lalu menunduk tersipu.

Makan malam itu begitu istimewa. Banyak hal mereka percakapkan, mulai dari keluarga hingga pekerjaan. Bayu pandai sekali membuatnya tertawa lalu bersedih sekaligus dengan kisah hidupnya yang dramatis.

Sejak itu, hidup Ranti serasa berbunga-bunga. Pak Aksan sampai terheran-heran melihat perubahan pada diri sekretarisnya yang biasanya kaku dan profesional.

“Ranti, ini ada beberapa berkas dari purchasing soal tender cabang Bandung. Menurutmu, mana yang pantas kupilih?”

Ranti menatap berkas bernilai milyaran itu. Salah satunya dari perusahaan Bayu. Sudah biasa Pak Aksan memintanya menentukan sebuah pilihan. Ada beberapa kekurangan di perusahaan Bayu, tapi jika ia tak memilihnya bagaimana dengan hubungan percintaan mereka?

“Jangan kau campur adukkan urusan pribadi kita dengan pekerjaan, Ranti. Aku tulus mencintaimu.” Pernah Bayu berkata demikian ketika waktu penentuan vendor semakin dekat. Mengingat perkataan Bayu, justru membuat Ranti mantap untuk memilihnya.

Pada akhirnya, perusahaan mereka menandatangani kesepakatan kerja bersama. Dan sejak saat itu, Bayu menghilang bagai ditelan bumi.

-o0o-

Words: 500

Yuukk ikutan Quiz MFF …

Save

Save

Save

Save

Prompt #131 ~ Jangan Menoleh ke Belakang!

Prompt #131 ~ Jangan Menoleh ke Belakang!

Fiuhh, akhirnya selesai juga mengganti infus pasien terakhir. Saatnya sejenak melepas penat. Secangkir cokelat panas tentu akan mengembalikan energi yang hilang. Ah, sial! Air panas habis sama sekali. Aku mesti ke dapur, nih! Sekalian saja membuat mie instan. Aku bahkan lupa kalau belum makan malam.

“Aku ke dapur dulu, ya,” pamitku pada Winda, satu-satunya rekan jaga malamku di lantai dua ini.

“Berani sendiri, Nan?”

Aku tertawa. Bukan sekali dua kali mereka menakut-nakutiku soal hantu dan sejenisnya. Baru sebulan aku bertugas di rumah sakit daerah ini tapi sudah lebih dari seratus kali mendengar hal-hal mengerikan.

“Jangan takut-takuti aku, Win. Kau tahu kan, percuma!”

“Terserah kau, Nan. Asal ingat pesanku, jangan sekali-sekali menoleh kalau kau dengar seseorang memanggilmu di tempat yang mestinya nggak ada orang.”

Aku mengibaskan tanganku lalu melangkah keluar bangsal. Hampir tengah malam, nyaris tak ada orang berkeliaran di lorong. Suasana rumah sakit ini memang suram, seperti sudah bertahun-tahun tak mengenal perbaikan. Penerangan yang minim menambah kesan seram. Mumpung sepi, aku menggunakan lift agar lebih cepat. Dapur umum terletak agak ke belakang di lantai satu. Setelah melewati lorong ke arah belakang, kau harus belok ke kiri, sebab di lorong sebelah kanan adalah kamar jenazah.

Jika di seluruh rumah sakit terkesan suram, maka dapur adalah bagian paling suram sekaligus paling luas. Tapi aku tidak peduli. Segera kujerang air dalam panci kecil. Aku melangkah ke lemari mencari mie instan. Baru kusadari, ternyata aku tidak sendirian. Seorang dokter tengah membelakangiku di meja pojok. Dari perawakannya kutebak pasti dr. Edwin, dokter UGD.

“Malam, Dok. Jaga malam, nih?” sapaku sembari mengambil cangkir dan mangkuk dari rak. Tak kudengar jawaban, hanya denting sendok beradu dengan cangkir.

“Ngopi, Dok?” Lagi-lagi dia tak menjawab. Aku mengangkat bahu lalu melanjutkan membuat mie. Dr. Edwin memang terkenal agak sombong, sebab ia putera dari Prof. Yakub, direktur rumah sakit.

“Nani ….” Haha, dia mengenaliku rupanya.

“Ya, Dok?” sahutku tanpa menoleh. Aneh juga, mengapa suaranya terdengar berbisik begitu?

“Nani ….”

Belum sempat kujawab, tiba-tiba lampu padam. Oh, sial! Ini sudah ketiga kalinya dalam sehari. Dapur adalah satu-satunya ruangan tanpa generator.

“Dok, tolong ambilkan lilin di dekat meja situ,” pintaku sambil mematikan kompor sebab mie-ku sudah masak. Dr. Edwin tidak menjawab, tapi aku merasakah sosoknya di belakangku.

“Nani ….”

“Makasih, Dok.” Aku menoleh. AARRRGGHHH!!! Seraut wajah mengerikan dengan mata merah dan gigi-gigi runcing menyeringai menatapku! Rambut putihnya berkeriapan di wajahku. Aku … tercekik!

Words: 388

Ikutan Prompt #131 di MFF yuuuk …

Save

Save

Save

Save

Save

Prompt #130: Perempuan yang Lewat di Depan Rumah

Prompt #130: Perempuan yang Lewat di Depan Rumah

Rambutnya panjang, selalu berjalan terburu-buru dengan tangan penuh. Tapi aku suka setengah mati, bahkan jatuh hati sampai jungkir balik. Dia selalu lewat depan rumah setiap menjelang isya. Aku akan duduk di beranda, sedikit tersembunyi di balik rumpun bambu di halaman rumah, lalu mengamatinya sampai lenyap di belokan. Ibu menganggapku gila dengan perbuatanku, begitu juga bapak. Tapi aku nggak peduli. Parasnya begitu cantik seperti bidadari.

“Memangnya kamu sudah pernah lihat bidadari?” tanya Ibu kesal.

“Nah, yang setiap malam kutunggu itulah, Bu.”

Haish, sadar, Nak, kamu ini lelaki mbok ya jangan kebanyakan ngelamun, bisa gila nanti!”

“Sudah, Bu, aku sudah tergila-gila bidadari berambut panjang itu.”

Kalau sudah begitu, Ibu hanya mengelus dada lalu meninggalkanku sendirian di luar. Bapak lain lagi dalam menghadapiku.

“Kalau kamu berani, samperin, dong. Ajak kenalan, suruh mampir sini , itu baru laki-laki!”

“Nanti Pak, jika sudah tiba waktunya.”

“Hahh, keburu disamber orang!”

Nah, masalahnya sudah dua hari bidadariku tidak lewat depan rumah. Kabar-kabarnya dia sakit, karena kesurupan. Hah? Kok bisa? Gadis yang terlihat begitu sibuk, bahkan bila berjalan nyaris tak pernah lepas dari apalah itu yang dipegang di tangannya. Aku jadi penasaran, apakah sinyal-sinyal cintaku terjawab? Sebab sebelum itu, aku sempat mendekatinya meski tak berani menyapa. Ia sempat melirikku dan kuberikan senyum terbaikku. Namun ia malah mempercepat jalannya. Tapi aku senang sekali sebab ia sempat melihat senyumku.

Ini hari ketiga, mestinya bidadariku sudah sembuh. Nah, itu dia … datang dari arah rumahnya. Oh, tidak bekerja rupanya. Eh, tapi tunggu dulu, ia tidak sendirian melainkan didampingi beberapa orang. Seorang berjubah putih macam Pak Ustad, lalu beberapa laki-laki dengan membawa untaian kalung bulat-bulat. Siapa mereka?

Lalu mereka berhenti tepat di halaman rumahku. Si Jubah Putih mulai mendaraskan doa-doa sementara bidadariku dan yang lain-lainnya membacakan mantra-mantra yang aku tak mengerti. Tiba-tiba tubuhku terasa panas. Bapak dan Ibu berteriak dari dalam. Panas … panas … tidaaaakkk!!!

Words: 300

Hahaha sudah telat ikutan Prompt 130 di Monday FlshFiction 😛

Prompt #127 ~ Kekasih Rahasia

Prompt #127 ~ Kekasih Rahasia

prompt-127

Sejak kecil, aku selalu menjaga perasaanku agar tidak pernah bahagia. Mama pernah berkata, bahwa terlalu bahagia itu dosa. Tidak boleh berlebihan, secukupnya saja. Sebab bahagia membuatmu lupa diri, menutup kepekaanmu terhadap penderitaan. Kala itu aku hanya mengangguk tanpa mengerti. Namun jika kuingat-ingat, aku memang tidak pernah bahagia atau … tidak tahu?

Mungkin aku tidak tahu, karena tak pernah kulihat Mama tertawa -jika benar kata orang-orang bahwa tawa identik dengan bahagia- hanya air mata yang selalu berlinang terutama ketika Papa ada di rumah dan berteriak-teriak. Jika itu terjadi, aku akan mengunci diri di kamar bersama sahabatku.

Sekarang, tiba-tiba aku selalu ingin tersenyum, sejak berkenalan dengan Ray, seorang pria baik hati penghuni kamar sebelah.

“Ingat, Jane, kau harus menahan diri. Akhir-akhir ini kau terlihat senang.” Sahabatku mengingatkanku, alih-alih menyebut kata “bahagia” sebab ia membenci kata itu.

“Entahlah. Aku … ada sesuatu di hatiku,” keluhku.

“Omong kosong! Tidak ada apa-apa di hatimu! Semua terpusat pada kepalamu, otakmulah yang mengendalikan semua rasamu.”

Mataku mulai redup kembali, setelah sesaat kurasakan ada percikan mengilau di sana.

“Tatap aku, Jane.” Kuangkat kepalaku, menatap sahabatku. Wajahnya tak pernah jelas terlihat, sebab kami selalu berbincang dalam gelap. Suaranya bariton seiring dengan kedewasaannya, bicara dengan nada dalam dan pekat.

“Rasa senang itu akan membuatmu lemah. Kaukira, apa yang membuat Mamamu bertahan? Karena dia menutup diri, berlindung pada dunianya sendiri. Sekali kau terjebak dalam rasa itu, kau mati, Jane! Tidakkah kau mengerti?”

Air mataku menitik. Tapi Mama juga akhirnya mati dalam penderitaan, bukan? Tidak bolehkah aku sedikit senang?

Aku melirik sahabatku. Kami tumbuh bersama dalam kepahitan. Haruskah aku mengkhianatinya demi Ray? Sebab pria itu benar-benar membuat duniaku berbeda dan … bahagia? Tiba-tiba ia mendekat, terlalu dekat. Wajahnya menunduk, lalu tanpa kusangka-sangka ia menciumku. Aku tergagap, ciuman itu begitu dingin, menyelubungi seluruh tubuhku hingga aku menggigil. Menyadari itu, ia melepas ciumannya.

“Aku mencintaimu, Jane,” bisiknya. Aku terpana.

“Tidak mungkin.”

“Kau memang bukan satu-satunya, tapi aku selalu ada untukmu. Ketika Mamamu mati, siapa yang memelukmu? Ketika akhirnya Papamu masuk penjara, kau bersandar padaku, bukan? Lalu … setiap kau menghadapi kepahitan di luar sana, kau selalu kembali padaku. Itu semua membuatku jatuh hati padamu.”

Aku tidak tahu mesti menjawab apa, semua yang dikatakannya benar. Hanya Ray yang membuatku nyaris meninggalkannya. Aku menangis dalam pelukannya hingga pagi.

Esoknya aku bertemu Ray dalam lift. Seperti biasa ia menyapaku dengan ramah. Namun aku menyahutnya dingin. Sejak semalam, telah kuputuskan untuk selalu setia pada sahabatku (sepertinya kami telah resmi menjadi sepasang kekasih). Sunyi -kekasihku- yang mampu membuatku bertahan dari bahagia yang berlebihan atau … bahkan sedikit bahagia.

Words: 414

Ikutan prompt yuuuuk … di Monday Flashfiction 🤗