Moon River

Moon River

Kaset Andy Williams

Suara merdu Andy Williams tak pernah membuatnya bosan, selalu menggetarkan hati, menenangkan perasaan. Kaset itu bahkan jauh lebih tua dari usianya, kaset pemberian Nenek. Beberapa kali Luna mesti memasukkannya ke dalam kulkas untuk kembali membuat pitanya kencang.

Moon river, wider than a mile
I’m crossing you in style some day
Oh, dream maker, you heart breaker
Wherever you’re going, I’m going your way

Lana memandangi Luna yang tidur. Kaset ini milik Luna, tapi ia sering turut mendengarkannya. Sesungguhnya ia sangat membenci gadis yang sedang tidur itu. Bagaimana tidak? Setiap kali lelaki itu menyiksanya, ia bersembunyi. Luna tak pernah merasakan perih yang menusuk itu, tak pernah merasakan belaian yang menjijikkan, apalagi memandangi wajah puas binatang jalang itu. Dan ketika binatang itu pergi, Luna memutar kaset Andy Williams seakan berlindung darinya tanpa peduli badai yang baru saja menerjangnya.

“Aku ingin sekali mencekiknya, Lin!” Suatu kali Lana mengadu pada Lina, yang telah lebih dulu merasakan siksaan.

“Lalu, mengapa tidak?” tanya Lina tak peduli.

“Itu sama saja membunuh kita semua, Bodoh!”

“Bukankah itu yang terbaik? Kau pun seringkali memanggilku untuk menggantikanmu bukan? Kau bahkan tidak tahu, aku lebih ingin mencekiknya daripada kau!”

“Aku masih ingin hidup, Lin. Aku punya kehidupanku sendiri.”

“Nah, kalau begitu mengapa bukan Papa saja yang kau cekik?” usul Lina tanpa perasaan. Sejenak mata Lana berbinar namun seketika itu juga meredup.

“Lalu masuk penjara? No! Itu bukan ide bagus.”

“Tidak akan. Mereka tak akan memenjarakan orang gila. Paling-paling mereka akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa. Setelah itu pikirkan cara untuk melarikan diri,” usul Lina yang lagi-lagi tak masuk akal. Namun Lana terbahak mendengar usulan itu. RSJ mungkin tak semengerikan penjara.

Moon River telah habis dan berganti dengan Love Story ketika dehem yang mengerikan itu terdengar. Sial! Lana merutuk dalam hati. Ia ingin melarikan diri tapi tak bisa. Papa akan membuatnya terjaga sementara Luna takkan bangun. Otaknya berpikir keras. Kaset itu! Luna pernah histeris ketika kasetnya terselip. Nyaris seperti orang gila gadis lembut itu mengamuk. Lana segera mengeluarkan kasetnya lalu membantingnya ke lantai hingga pecah berantakan. Tepat saat itu handle pintu memutar. Lana membangunkan Luna lalu bersembunyi.

“Sayaang…,” panggil Papa lembut sambil mengunci pintu di belakangnya. Luna memandangnya datar. Ia tak pernah tahu mengapa Papa yang lembut itu selalu meninggalkan rasa nyeri di bawah perutnya setiap kali keluar kamarnya? Luna tak sempat berpikir ketika ia mendapati sesuatu pecah berantakan di bawah kaki Papa.

“Pa?” Tangannya memunguti kepingan kasetnya dan pita hitam yang terurai ke mana-mana.

“Bukan Papa, Sayang. Sudahlah, nanti kita beli lagi. Ayo tidur?” Papa meraih pundak Luna. Gadis itu memerah. Papa telah merusak kasetnya!

“Papa jahat! Papa selalu menyakitiku! Kini merusak pula kasetku!” Luna histeris. Ia lalu berdiri membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah pisau besar.

“Luna…”

Pisau itu menghunjam perut, dada, pinggang dengan brutal. Serangan baru berhenti ketika pria itu tersungkur lalu Luna pun roboh di sampingnya.

Lana menatap ngeri sosok penuh darah itu. Tak disangkanya Luna sedemikian brutal hanya gara-gara kaset?

“Itu bukan Luna,” bisik Lina di sampingnya. Wajahnya menyeringai puas. Sisa-sisa kebrutalan tergambar jelas di wajahnya.

“Kau?’

Words: 500

Kaset pinjam dari Google

Advertisements

6 thoughts on “Moon River

  1. Lana, Luna dan Lina itu satu orang ya?
    tapi masih bingung kenapa Luna bisa sampai sebegitunya.

    Bukan Luna yang membunuh, tapi Lina 😉

  2. tiga kepribadian satu jiwa. kok jd keingat karakter di serial Heroes, ya?
    Anyway., this story is cool! 🙂

    Salah satu kasus MPD, Bang 😉

  3. sukaa, keren. jadi inget filmnya Dian Sastro dkk Belahan Jiwa.. kepribadiannya jadi 4 😀

    Waaa, pengen nontoon….
    Makasiy, ‘Ne 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s