Hannah

Hannah

Sepasang suami istri itu bergegas meninggalkan panti tanpa menengok lagi. Moeder Maria memandangi mereka dengan sedih. Di sampingnya, seorang gadis kecil berwajah malaikat -cantik luar biasa- tersenyum bahagia.

“Ini sudah keempat kalinya kau dikembalikan, Hannah,” keluhnya. Bocah kecil itu diam saja, tangannya sibuk memainkan boneka berambut pirang lusuh, satu-satunya mainan yang dia punya.

“Kali ini apa lagi yang kau lakukan?”

“Aku tidak melakukan apapun, Moeder,” suara kecilnya tidak gentar sedikitpun. Maria menghela napas panjang. Suami istri Willem tadi mengatakan bahwa setiap malam tiba, Hannah selalu menjerit-jerit, sesekali menggeram-geram, bahkan meraung-raung. Namun jika pagi tiba, bocah lima tahun berwajah malaikat itu manis sekali. DI hari ketujuh, keluarga Willem membawa Hannah ke psikolog untuk menjalani serangkaian tes. Tidak ditemukan apapun, selain bahwa anak itu memilik kecerdasan di atas rata-rata dan kemampuan bersandiwara yang luar biasa. Di bulan keempat, ketika tak ada perubahan apapun keluarga Willem memutuskan untuk mengembalikan Hannah ke panti asuhan.

“Kau tidak bisa selamanya begini, Nak. Setiap hari ada saja anggota baru yang masuk ke sini. Jika tak ada lagi orang tua yang mau mengadopsimu, kau takkan punya lagi tempat di sini. Lihat Suzanna, Mary, Linda, Jenny, dan yang lainnya. Semua sudah mendapat orang tua yang baik dan sayang. Tapi kau?”

Hannah seperti tak mendengar apapun. Mulutnya komat komit berbicara dengan Susie, bonekanya. Mata tua Maria berkaca-kaca. Lima tahun lalu, Hannah diserahkan oleh ibunya, seorang gadis lima belas tahun dalam keadaan memprihatinkan. Awalnya Maria tak mau menerima tanpa pendampingan orang tua si gadis, namun baru saja ia menggendong bayi lemah itu, ibunya tersungkur. Darah terus menerus mengalir dari selangkangannya. Tiga hari kemudian si gadis tewas di rumah sakit pemerintah. Tak seorangpun merasa kehilangan.

Β “Kembalilah ke kamarmu, Hannah.”

Dank u, Moeder.”

Hannah berlari-lari kecil menuju kamarnya, di mana ia harus berbagi dengan sembilan anak perempuan lainnya. Sebelum masuk ke kamar, ia menyusuri koridor lalu terus menuju kebun belakang. Hari masih sore, namun di musim dingin ini gelap lebih cepat turun. Hannah terus menyeberangi kebun menuju tepi hutan. Dingin begitu menusuk, bocah itu mendekap Susie untuk sedikit menghangatkan. Di balik barisan pepohonan besar, tampak gubuk kayu dengan lampu kecil berkelip di dalamnya. Hannah mengetuk pintu.

Mijn meisje,” bisik sebuah suara parau menyambutnya. Hannah berseri-seri memandangnya lalu tenggelam dalam pelukan sosok pria besar berwajah seram.

“Rumahnya besar sekali, mereka kaya raya. 3345 Spaarndammerstraat,” celoteh Hanna menyebutkan sebuah alamat. Pria besar itu tertawa.

Goed meisje… I love you.”

I love you too, Papa.”

words: 400

Catatan:

Moeder: Ibu

Dank u: Terimakasih

Mijn meisje: Gadis Kecilku

Goed meisje: Gadis Baik

Advertisements

6 thoughts on “Hannah

  1. endingnya terbuka gitu bisa jadi apa saja. bikin penasaran.
    dan aku suka banget deskripsinya.

    Hahaha….Thanks a lot, Mel πŸ˜‰

  2. Keren ide cerita dan deskripsinya.. Sedikit saran dari saya, jika di bagian bawah diberi terjemahan, sepertinya akan lebih menyempurnakan cerita ini.. πŸ™‚

    Salam kenal ya!

    Hihihihi…kemaren sangat terburu-buru, akan kuperbaiki. Thanks sarannyaa yaa…
    Salam kenal kembali πŸ˜‰

  3. Banyak pertanyaan…tapi biarlah. Seru aja, jadi ikut ngarang2…”pria besar tuh siapanya Hannah yaa?”… πŸ™‚

    Hahhaha…bisa jadi memang ayahnya, tapi bisa juga bukan. But don’t worry, dia bukan pedofil, kok πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s