Lingerie Merah

Lingerie Merah

gift3

Telah kusematkan setangkai mawar merah di atas kotak karton pipih ini. Kotak pipih berisi lingerie merah yang menawan, yang kan kupersembahkan untuk istriku. Jelas ini tak biasa, jangankan lingerie dan sekuntum mawar, sehelai saputangan pun tak pernah kuberikan untuknya. Semoga ia tak menduga bahwa ini adalah sebuah permintaan maaf atas perbuatanku. Dan semoga istriku memang tak pernah mengetahuinya.

Lilin-lilin beraroma jasmine telah kunyalakan. Tak lupa kutaburkan helai-helai rose pink di atas peraduan kami, bunga kesukaan Laila, istriku. Sesungguhnya aku tak suka segala sesuatu yang berwarna pink, warna yang menurutku mentah dan kekanak-kanakan. Tapi demi Laila, kubiarkan warna pink mendominasi ranjang cinta kami. Pasti Laila senang dan menyambutku dalam gairah. Soal warna merah lingerie ini? Ah, biarlah, merah akan selalu kontras dipadu dengan pink. Lagipula sesungguhnya lingerie ini bukan untuk Laila, tapi manalah sempat aku menukarnya? Sedangkan perjuanganku untuk tiba lebih dulu di rumah pun sudah sangat berat. Belum lagi mesti kuantar buah hatiku dan pengasuhnya ke rumah ibu. Malam ini, hanya akan menjadi milikku dan istriku.

Senja semakin tua, tirai-tirai telah kuturunkan. Lampu-lampu rumah kunyalakan, terkecuali lampu kamar kami tentunya. Pendingin ruangan kuatur hingga temperatur terendah, aku ingin menghangatkan istriku malam ini. Tidak, tidak menghangatkan namun memanaskan. Membayangkannya saja sudah membuat aliran darahku beredar ke mana-mana. Sudah tentu Laila tak secantik dulu, apalagi sexy, jauh, jauh sudah. Tapi ia adalah ibu dari kedua anakku dan aku pernah mencintainya. Pernah? Ups, tentu saja masih, aku masih mencintainya. Lalu mengapa kuabaikan? Mengapa masih pula aku bermain mata? Aahh, bukankah semua laki-laki demikian adanya? Istri bak berlian menunggu tapi masih juga bermain mata dengan perunggu.

Deru halus mobil istriku memasuki halaman. Dadaku berdebar-debar, gairah sudah memuncak. Aroma lembut parfum istriku tercium bahkan dari dalam kamar. Kusambut ia dalam pelukan. Wajahnya terperangah heran. Aku memang jarang memeluknya. Kubimbing ia memasuki kamar kami.  Wajahnya penuh tanya. Kukatakan, aku ingin berduaan saja, mengulang kembali manisnya madu malam pertama dulu. Mengapa? Ia bertanya. Rindu, hanya itu jawabku. Laila tertawa kecil. Semoga ia tak membaca kepalsuan dalam suaraku. Aku memang bergairah, aku memang masih mencintainya, tapi mengapa yang kubayangkan saat ini wajah lain? Sial!

Begitu kami memasuki kamar, Laila terpekik senang. Melihat alas peraduan berwarna merah muda dengan taburan helai-helai mawar serta aroma melati yang menguar memenuhi ruangan. Ia memelukku, menciumiku penuh gairah. Sesungguhnya ini memang baru pertama kali kulakukan sejak sepuluh tahun pernikahan kami. Aku terbawa gairahnya. Kubalas pagutannya, kutanggalkan blazer nya, dan ia melepas high heels nya. Dan sebelum semuanya terlepas tuntas, aku ingat lingerie merah itu. Kulepas pelukan dan kukatakan padanya untuk membuka kotak pipih di atas peraduan kami.

Enggan melepas pelukanku, istriku melangkah juga. Senyumnya sungguh menggoda, lirikannya mengandung pertanyaan mesra, apakah ini? Kukedipkan mata padanya, bak Don Juan menggoda kekasihnya. Ia membuka kotak pipih itu. Mulutnya menganga, diangkatnya lingerie merah itu. Satin, tipis, dengan size yang mungkin kekecilan. Namun kelembutannya tak diragukan, keindahannya tak perlu dipertanyakan. Istriku mematutnya di tubuhnya, dan pada saat itu sehelai kertas kecil meluncur turun.

Aku terpana. Kertas itu melayang-layang turun ke lantai, tanpa suara. Namun begitu menyentuh lantai, dentamannya mampu membuatku tuli. Merobek-robek tubuhku, memburaikan isi kepalaku. Dan belum sempat kubergerak, istriku mengambil kertas itu. Wajahnya masih tersenyum, lirikannya masih penuh goda. Bagai adegan slow motion, jemarinya membuka lipatan kertas itu.

Tertulis pada kertas itu,

Aku gila membayangkan kau dalam balutan merah ini, Sofie, kekasihku…

Aku lemas.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Lingerie Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s