Perempuan dalam Cermin

Perempuan dalam Cermin

banner-giveaway tg

Perempuan dalam cermin itu kembali menatapku. Wajahnya tirus dengan dagu lancip menawan, pipinya ranum dengan bibir merah menyala. Keseluruhan wajahnya cantik, hanya matanya yang sayu dan mati. Tak ada pendar cahaya meski hanya setitik.

“Mengapa kamu masih di sini, Lara?” tanya perempuan itu. Aku mendesah, berusaha menyisir rambutku yang sehalus sutra tanpa merusak jepit emas di sisi-sisinya.

“Katamu kamu gak akan kembali ke sini?”

“Aku sedang butuh biaya untuk…pernikahanku,” jawabku lirih.

“Omong kosong! Dia bersedia membiayai semuanya! Kamu bakal merusak semua mimpimu! Bagaimana kalau dia sampai tahu hah?”

“Dia gak akan tahu!”

“Dia akan tahu!”

“Tidak!”

Aku tergugu, air mata nyaris tumpah merusak riasanku. Malas sungguh berdebat dengan perempuan ini. Tapi, apa yang dikatakannya mungkin terjadi. Aku mengenal Indra di sini, tak tertutup kemungkinan malam ini pun ia akan datang. Bagaimanapun, Indra tidak tahu siapa aku. Dia hanya tahu, aku bekerja di sini sebagai penyanyi pub.

“Pulanglah, upahmu hari ini takkan bisa menyulap pestamu menjadi pesta raja-raja.”

Ucapannya benar. Kutatap lagi wajah dalam cermin itu. Cantik, ranum, namun nyaris layu. Aku berdiri, merapikan gaun ungu yang nyaris tak menutupi keindahan tubuhku.

“Lara! Turunlah, tamumu sudah dataang!”

Sial! Terlambat sudah, suara cempreng itu melagukan panggilan dari neraka, membuatku gemetar, seperti ketika kali pertama suara itu memanggilku.

“Laraaa.”

Perempuan dalam cermin itu menatapku nyaris menangis.

“Masih belum terlambat. Kaburlah lewat pintu belakang,” desisnya.

“Tidak bisa. Tamuku seorang pejabat kaya raya. Dia akan memberiku banyak uang,” bisikku.

“Berjanjilah, ini untuk terakhir kalinya,” akhirnya perempuan dalam cermin itu mengalah.

“Aku janji. Aku hanya ingin hidup yang lebih baik.”

Langkahku gontai menuruni tangga. Di lobby, Tante Nurma tengah bercengkrama dengan seseorang yang berdiri memunggungiku. Begitu melihatku senyum Tante Nurma merekah.

“Lara oh Lara… gadis paling cantik, gadis kesayanganku. Kemarilah.” Suara cempreng itu kembali melagukan panggilan neraka. Namun bibirku tersenyum, langkahku berayun diiringi lambaian lenganku yang luwes bak penari. Pria berambut campuran abu-abu dan hitam itu menoleh. Dan jantungku pun melompat hingga ke leher.

“Lara?”

“Om?”

Bagaimana mungkin aku bisa bercinta dengan calon mertuaku?

************

“Aku gak tahu, kenapa Papa tiba-tiba melarangku mengawinimu, Sayang,” keluh Indra. Tangannya memainkan gelas berisi liquor dengan es batu yang saling beradu.

“Mungkin Papamu malu dengan pekerjaanku,” sahutku tertunduk, tak mampu menatap wajah tampannya.

“Ah, sejak aku mengenalkanmu Papa sudah tahu kok. Apalagi setelah tahu kamu akan berhenti, semua gak ada masalah.”

“Papamu seorang pejabat, Indra. Tentu memalukan mempunyai menantu seorang penyanyi pub,” bisikku.

“Bukan alasan. Oh Lara, tinggal bulan depan kita resmi jadi suami istri, mengapa keadaan jadi sulit begini?”

Aku tak bisa menjawab. Malam itu memang Om Bram tak jadi memakaiku, tapi ayah mana yang mau bermenantukan perempuan macam aku? Haruskah aku membuat pengakuan pada Indra? Aku tak sanggup. Seharusnya aku turuti perempuan dalam cermin itu.

“Sabar, Sayang. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar semua lancar,” ujarku. Doa? Maukah Tuhan mendengar doaku?

**************

Kali ini wajah perempuan dalam cermin itu menatapku tanpa riasan. Masih tetap cantik, bahkan jauh lebih cantik dan muda meski sedikit pucat. Bagaimanapun ini adalah rumahku, tak ada yang memintaku berdandan.

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.

“Aku gak tahu. Om Bram memintaku menemuinya nanti malam. Aku malu dan takut. Aku harus bagaimana?” tangisku.

“Kamu cinta Indra?”

“Tentu.”

“Bukan karena pelarian dari hidupmu yang nista ini, Lara?” Sial! Mengapa perempuan itu bertanya seperti itu?

“Aku mencintainya. Aku memang ingin hidup yang lebih baik, dan hanya dengan Indra aku bisa baik.”

“Bagaimana jika Papanya Indra menawarimu setumpuk uang lalu menyuruhmu menjauhi anaknya?” tanya perempuan dalam cermin itu. Aku terbahak histeris.

“Itu…itu…seperti sinetron!” Aku masih terbahak lalu menangis.

“Bukankah hidupmu memang seperti sinetron, Lara? Jika Indra tahu siapa kamu sesungguhnya, masih maukah ia menyuntingmu?”

Kulempar perempuan dalam cermin itu dengan sisir perakku. Kacanya pecah berantakan, wajahnya penuh amarah tapi ia tak bisa lagi berkata apapun.

***********

“Sejak kapan kamu menjalani profesi ini, Lara?”

Aku tergagap. Hatiku berembun persis seperti gelas juice di hadapanku. Tanganku gemetar, kusembunyikan di pangkuan. Aku tidak mau menjawabnya. Laki-laki itu menghela napas panjang.

“Lara…Lara…kamu cantik dan anakku jatuh hati setegah mati padamu. Mengapa mesti kamu?”

Embun dalam hatiku menguap, terpanaskan oleh pernyataan, “Mengapa mesti kamu?” Namun, aku tak boleh marah bukan? Karena dia calon mertuaku -jika jadi- meski kelakuannya tak lebih baik dariku. Mana bisa lebih baik, seorang suami dan ayah yang pergi ke tempat terlarang?

Benar kata perempuan dalam cermin itu, ketika kulihat calon mertuaku -jika masih mungkin- mengeluarkan amplop tebal dari tas kulit mewahnya. Hohoho…coba lihat berapa dia menghargaiku? Seratus juta? Lima ratus juta? Satu milyar? Hasil korupsi bukan? Mulutku tak berkata-kata tapi mataku sinis menatapnya. Aku akan minta dua milyar! Cintaku pada Indra tak tergantikan, tapi aku akan memeras laki-laki hidung belang ini!

“Ini ada uang lima ratus juta.”

Tidak, Tuan! Kau bisa memberiku lebih banyak dari itu! Aku masih diam. Kutahan air mata yang nyaris menetes. Bibirku mungkin sudah berdarah kugigit sejak tadi.

“Pakailah untuk persiapan pernikahanmu.”

Apa? Aku salah dengar? Ini…ini…gak mungkin!

“Maksud Om?”

“Semua sudah siap dan sudah terbayar. Ini pegangan jika kamu memerlukan sesuatu.”

“Om?”

“Bahagiakan anakku, Lara. Dan jangan sekalipun kamu kembali ke tempat itu. Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua.”

Aku menatap wajah kembaran kekasihku yang mendadak letih dan tua. Air mata saling berkejaran membasahi pipiku. Syukur kupanjatkan berkali-kali dalam hatiku.

“Terimakasih, Om,” bisikku dalam tangis. Wajah tua itu tersenyum.

************

words: 865

“Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway”

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan dalam Cermin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s