Secret Admirer

Secret Admirer

Wajah Maya bersemu kemerahan ketika membaca SMS yang baru saja diterimanya. Dadanya berdebar-debar tak karuan, segera ia keluar dari kubikel nya dan berlari mencari Santi, sahabatnya.

“San! Dia mengirimiku SMS lagi!” serunya tertahan. Suasana di kantor sedang sibuk, tak mungkin ia berseru-seru dengan keras. Santi mengangkat wajahnya dan memandang Santi dengan acuh.

“Apa katanya?”

“Dia bilang, hari ini aku cantik sekali dengan model rambut baru. Aduh, berarti dia lihat aku dong!” ujar Maya tersipu-sipu. Dengan gemas diguncang-guncangnya bahu Santi.

“Emang aku cocok ya, San, dengan rambut sebahu begini?” bisiknya malu-malu. Santi menghela napas dan memandangi sahabatnya.

“Cantik,” gumamnya. Maya cemberut.

“Kok gitu sih? Kayak nggak ikhlas banget ngomongnya?” rajuk Maya.

“Ya aku mesti gimana lagi? Emang cantik kok?” tukas Santi lalu segera menghadapi komputernya kembali. Merasa diacuhkan Maya meninggalkan kubikel Santi dan kembali ke tempatnya dengan kesal.

Melihat kepergian sahabatnya, Santi hanya bisa menghela napas panjang.

*****

Pria itu memandangi Maya sambil sesekali tersenyum. Gadis itu hanya bisa membalas senyumnya lalu mengalihkan pandangan pada lampu yang menyala pada lift. Sebentar lagi tiba di lantai 12 dan pria tampan itu akan keluar sambil berkata,”Duluan ya,” pada Maya. Sudah hampir sebulan ini ia bertukar sapa dengan pria tak dikenal dari lantai 12. Dan benarlah, ketika pintu lift terbuka pria itu menyapa Maya dan berkata,

“Duluan ya.”

“Daah,” balas Maya. Pintu lift segera menutup kembali. Tak sabar Maya untuk tiba di kantornya di lantai 15. Begitu pintu lift terbuka, ia segera menghambur ke kubikel Santi. Sahabatnya sedang menikmati kopi pagi.

“San, aku ketemu cowok itu lagi di lift. Dan ia menyapaku seperti biasa,” ceritanya antusias.

“Aduh, aku kok curiga dia ya yang sering mengiriku SMS? Soalnya pas banget SMS itu mulai sejak aku ketemu dia” lanjut Maya lagi.

Santi meletakkan cangkirnya dan mulai menghidupkan komputer.

“Tahu darimana nomer ponsel kamu, May?” tanyanya tanpa ekspresi.

“Nah, itu dia. Aku juga gak tahu, mm…pasti dapat dari seseorang di kantor kita.”

“Emang kamu naksir dia, May?” tanya Santi yang membuat pipi Maya merona.

“Hihihihi….kayaknya, San. Habisnya ganteng, gagah, trus kelihatannya orangnya smart dan baik hati gitu,” jawab Maya malu-malu. Santi mengangkat bahunya.

Don’t judge the book by its cover, Non,” ujar Santi.

“Maksud kamu?”

“Yeah, kan kamu belum kenal. Siapa tahu dia itu play boy cap jempol, bininya udah empat, atau malah psikopat!”

“Ah, kamu lebay, San!” gerutu Maya kesal lalu kembali ke kubikelnya sendiri. Hatinya kesal karena Santi tak pernah memberi tanggapan yang menyenangkan kalau ia menceritakan pria ganteng itu.

Dengan setengah uring-uringan Maya menyalakan komputernya. Jangan-jangan Santi juga naksir pria itu, pikirnya. Apalagi hari ini ia tampak tampan sekali. Dengan kemeja biru muda dan dasi yang serasi, ransel di punggungnya, sepatu mengilat. Ah, apa profesinya ya?

Lamunan Maya terhenti ketika ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Cepat-cepat ia membaca pesan itu. Ah, dari dia lagi.

Selamat pagi, Cantik. Semoga harimu menyenangkan 🙂

Maya segera membalas dengan ucapan terimakasih dan mengatakan hal yang sama. Ingin ia berlari ke kubikel Santi namun segera mengurungkan niatnya mengingat tanggapan Santi tadi.

Dari sudut ruangan, Santi berdiri  melongok melampaui partisi setinggi dagunya dan memandangi kubikel Maya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

******

Happy birthday, Sayaaang!” seru Maya lalu memeluk sahabatnya erat-erat. Santi membalas pelukan Maya dengan hangat.

Thanks, May. Mana nih kadonya?” tanyanya bercanda.

Maya segera menyerahkan bingkisan pipih persegi dengan pita merah muda.

“Waah, apa nih?” pekik Santi kegirangan.

“Bukalah, sebelum teman-teman lain datang.”

Santi segera membuka bingkisan itu dan berteriak kaget. Sebuah dress bermotif bunga cantik meluncur dari kotaknya.

“May?”

“Psst, kali ini please pakai ya, San. Dua tahun aku bersahabat denganmu gak pernah sekalipun melihatmu pakai dress. Padahal body kamu tinggi, sexy, please yaaa,” sahut Maya dengan wajah memelas.

“Kamu kan tahu aku gak suka pakai rok!” tukas Santi.

“Ya ampun, sekali ini aja, Say. Trus nanti siang kita makan bareng di kafe bawah yuk. Biar kamu yang ultah, aku yang traktir deh,” bujuk Maya. Ia sudah bertekad bulat jika memang Santi menyukai pria itu maka Maya akan mundur tertatur dan akan menyatukan mereka.

Santi menghela napas panjang tapi lalu menuju toilet untuk mengenakan gaun pemberian Maya.

Ponsel Maya bergetar lembut, sebuah pesan masuk.

Cantik, bisakah nanti sore kita ketemu di parkiran? Aku tau kok kamu parkir di mana J

Dada Maya berdebaran. Mau apa dia ingin menemuiku, pikirnya. Lama ia tak membalas pesan pendek itu. Hatinya berkecamuk, antara penasaran dengan Si Pria Misterius ini namun ada rasa takut dan ragu. Bagaimana jika ternyata bukan pria itu yang selama ini disukainya? Pesang singkat itu datang lagi.

Bagaimana? Bisa kan? Percayalah, aku tidak jahat. Aku hanya ingin memperkenalkan diri kok 🙂

Ragu Maya membalasnya.

Baiklah. Bisakah aku mengajak sahabatku?

Pesan balasan segera datang.

Hmm, mengapa tidak sendiri saja? Tapi, baiklah. Aku tunggu ya J

Maya menghembuskan napas lega. Pada akhirnya ia akan segera bertemu dengan pengagum rahasianya itu. Lamunannya dikejutkan dengan kedatangan Santi.

“Lho? Kok gak dipakai gaunnya?” tanya Maya keheranan.

“Sorry May, aku belum siap. Tapi suatu waktu nanti pasti aku pakai kok,” sahut Santi. Maya melenguh kecewa, namun segera teringat undangan pria misterius itu.

“Ya sudahlah, aku gak maksa. Eh, San, Si Misterius itu ingin mengajakku ketemu nanti sore di parkiran. Kamu temani aku ya?”

“Waah, sorry, gak bisa May, aku ada janji sore nanti.”

“Yaaah, trus gimana dong?” desah Maya kecewa.

     “Temui saja, gak papa kok. Kan kalo ada apa-apa ada Si Karmin di parkiran,” sahut Santi datar dan segera berlalu meninggalkan Maya.

******

Parkiran tidak begitu ramai meski jam pulang kerja baru saja berlalu. Maya bersandar di mobilnya dengan berdebar. Tadi siang waktu makan siang dengan Santi, mereka ketemu Pria Tampan itu di lift. Dan seperti biasa mereka hanya bertukar senyum, namun Maya merasa senyum pria itu lebih ramah dan memesona. Mengingat itu jantungnya mendadak berdebaran dengan kencang.

Sepuluh menit berlalu namun pria itu tak kunjung datang. Maya mulai kesal. Jika lima menit lagi tak datang maka ia akan pulang. Dan berakhir semuanya! Namun ia tekejut melihat Santi berjalan ke arahnya dari kejauhan.

“Lho, San? Katanya ada janji?” tanyanya heran begitu sahabatnya sudah berdiri di hadapannya dengan salah tingkah.

“Belum datang?” tanya Santi tanpa menjawab pertanyaan Maya.

“Huh, belum. Pulang aja yuk, mendingan kita nonton atau apa,” gerutu Maya kesal. Santi menunduk.

“Hmm, sebenarnya dia sudah ada di hadapanmu sekarang,” bisik Santi. Maya bingung celingukan. Tak ada seorangpun selain mereka berdua.

“Becanda kamu, San!”

“Gak, May. Sebetulnya aku yang selama ini mengirim SMS itu.”

What! Ah, jangan bercanda, San!”

“Serius!” Wajah Santi datar tanpa senyum sama sekali.

Maya memandang sahabatnya mula-mula dengan bingung, kecewa, lalu marah.

“Terus apa maksud kamu? Itu keisengan yang paling tolol yang pernah kamu buat tau! Kenapa, San!” Amarah Maya meledak. Tak disangka sahabatnya tega mengerjainya seperti ini. Sementara hatinya juga malu karena menuduh pria tampan dalam lift itu pelakunya. Oh!

“Karena…karena aku cinta kamu!” desah Santi. Sahabatnya melongo lalu tertawa nyaris histeris.

“Kamu…kamu gila ya, San! Kamu sakit!”

Santi masih terus menunduk.

“Aku memang sakit, May. Tapi aku mencintaimu.”

      Air mata Maya mengalir tanpa henti.

*******

Note: Naskah ini pernah dikirim untuk blog Pakdee Cholik yang sudah hilang 😀 (bertahun-tahun lalu) Naskah ini juga mengilhami ide salah satu cerita untuk Obituari Oma: I Adore You 😉 (another version)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s